Hanya Cerita Tabu. Abaikan!

Pertama aku melihatmu, saat kau juga melihatku. Mata kita bertemu, tidak lama, mungkin hanya satu detik, tapi sempat buat waktu disekelilingku mem-pause dirinya sendiri tuk men-capture gambarmu lalu masuk dalam otakku. Ada perasaan aneh, kupikir kamu salah ruangan saat itu. Kamu mengenakan kerudung warna putih dengan baju terusan warna hitam campur biru tua. Dan disenyummu, seperti ada medan magnet yang menarik-narik tanganku tuk bergegas menjabat tanganmu. Sekedar say hello atau pura-pura pinjam pulpen mungkin bisa mencairkan suasana saat itu.

“Hai, aku Reshie…”

Tapi ah, rasa canggung di ruangan kelas dengan banyak mahasiswa membuat tanganku beringsut kembali ke dalam saku celana.

Sejak itu, aku sering mencari informasi tentang siapa dirimu. Ya tentu saja, aku lelaki, dan sepertinya aku merasakan perasaan asing itu lagi. Maka, bertanya ke beberapa teman adalah jalan satu-satunya. Ada rasa tak enak juga, kau kakak tingkatku meski masalah umur kuyakin kita tidak teralu jauh. Singkat cerita, aku mendapatkan namamu, tapi tidak dapatkan nomor ponselmu. Tentu ada rasa kurang lengkap, seperti sayur tanpa garam. Tapi tak apalah…

Aku mencoba santai, menurunkan kadar agresifitas dalam pencarianku tuk bisa berbincang denganmu. Aku sempat melihatmu beberapa kali di gang dan ruang gedung kuliah, tapi dengan bodohnya aku membiarkanmu lewat tanpa sepatah kata keluar dari mulutku. Aku hanya canggung, ya kau taulah, setiap lelaki pasti merasa bodoh ketika sedang merasa suka dengan perempuan. Dan kamu…

Selau begitu.. setiap kali kau lewat, kau selalu menawan. Selalu terlihat ceria dan riang gembira. Selalu seperti matahari yang menyinari dunia.

Jujur sampai saat ini aku benar-benar kagum pada lekung absurd di bibir dan pipimu. Tuhan memang pencipta paling canggih di bumi. Ah, kamu menggemaskan!

Maaf, aku lancang bilang kau menggemaskan sedangkan kau mungkin merasa bukan anak kecil. Tapi jujur, kau benar-benar menggemaskan.

Setiap hari begitu, kau lewat aku diam, kau senyum aku senyum, kau lewat aku diam lagi. Terus begitu sampai suatu hari kau masuk ke contact BBMku. Aku lupa siapa yang meng-invite terlebih dulu, kau atau aku. Yang jelas aku girang setangah mati saat itu.

Tapi semesta belum memberi keberanian padaku tuk bisa menulis “Mba…” kepadamu. Parah!
Maka semuanya kembali sperti semula; kau lewat aku diam, kau senyum aku senyum, kau lewat aku diam lagi.

Seiring hukum waktu yang membuat kita semakin tua, hampir setiap hari aku dirubung kegalauan ala ABG yang menghitung kancing tuk sekedar mengirimkan pesan singkat kepadamu.

Maka semuanya tidak terjadi apa-apa.
Kosong.





Tidak ada komentar

Tidak ada komentar :

Posting Komentar