Pertama aku melihatmu, saat kau
juga melihatku. Mata kita bertemu, tidak lama, mungkin hanya satu detik, tapi
sempat buat waktu disekelilingku mem-pause dirinya sendiri tuk men-capture
gambarmu lalu masuk dalam otakku. Ada perasaan aneh, kupikir kamu salah ruangan
saat itu. Kamu mengenakan kerudung warna putih dengan baju terusan warna hitam
campur biru tua. Dan disenyummu, seperti ada medan magnet yang menarik-narik
tanganku tuk bergegas menjabat tanganmu. Sekedar say hello atau pura-pura
pinjam pulpen mungkin bisa mencairkan suasana saat itu.
“Hai, aku Reshie…”
Tapi ah, rasa canggung di ruangan
kelas dengan banyak mahasiswa membuat tanganku beringsut kembali ke dalam saku
celana.
Sejak itu, aku sering mencari
informasi tentang siapa dirimu. Ya tentu saja, aku lelaki, dan sepertinya aku
merasakan perasaan asing itu lagi. Maka, bertanya ke beberapa teman adalah
jalan satu-satunya. Ada rasa tak enak juga, kau kakak tingkatku meski masalah
umur kuyakin kita tidak teralu jauh. Singkat cerita, aku mendapatkan namamu,
tapi tidak dapatkan nomor ponselmu. Tentu ada rasa kurang lengkap, seperti
sayur tanpa garam. Tapi tak apalah…
Aku mencoba santai, menurunkan
kadar agresifitas dalam pencarianku tuk bisa berbincang denganmu. Aku sempat
melihatmu beberapa kali di gang dan ruang gedung kuliah, tapi dengan bodohnya aku
membiarkanmu lewat tanpa sepatah kata keluar dari mulutku. Aku hanya canggung,
ya kau taulah, setiap lelaki pasti merasa bodoh ketika sedang merasa suka
dengan perempuan. Dan kamu…
Selau begitu.. setiap kali kau
lewat, kau selalu menawan. Selalu terlihat ceria dan riang gembira. Selalu
seperti matahari yang menyinari dunia.
Jujur sampai saat ini aku benar-benar kagum
pada lekung absurd di bibir dan pipimu. Tuhan memang pencipta paling canggih di
bumi. Ah, kamu menggemaskan!
Maaf, aku lancang bilang kau
menggemaskan sedangkan kau mungkin merasa bukan anak kecil. Tapi jujur, kau
benar-benar menggemaskan.
Setiap hari begitu, kau lewat aku
diam, kau senyum aku senyum, kau lewat aku diam lagi. Terus begitu sampai suatu
hari kau masuk ke contact BBMku. Aku lupa siapa yang meng-invite terlebih dulu,
kau atau aku. Yang jelas aku girang setangah mati saat itu.
Tapi semesta belum memberi
keberanian padaku tuk bisa menulis “Mba…” kepadamu. Parah!
Maka semuanya kembali sperti
semula; kau lewat aku diam, kau senyum
aku senyum, kau lewat aku diam lagi.
Seiring hukum waktu yang membuat
kita semakin tua, hampir setiap hari aku dirubung kegalauan ala ABG yang
menghitung kancing tuk sekedar mengirimkan pesan singkat kepadamu.
Maka semuanya tidak terjadi
apa-apa.
Kosong.
Hanya Cerita Tabu. Abaikan!
Hallo dua puluh empat. Selamat memasuki ragaku yang sebenarnya tidak aku terima. Selamat menikmati hari-harimu dalam tubuku yang kurus dan tak terurus ini. Aku mencintaimu seperti juga aku mencintai diriku. Semoga kita bisa saling bersikap dewasa, memahami satu sama lain, dan terus bisa saling berjabat tangan. :)
Sudahkah kau ucapakan selamat tinggal pada dua puluh tiga? Ya, salam perpisahan untuk sekedar mengetahui bahwa ia kini telah benar-benar pergi. Kasihan ia, begitu banyak masalah dan keadaan yang terus menghantamnya dulu. Tapi, sudahlah, itu sudah berlalu, kini ia sudah tidak bersama kita. Ia menguap bersama kepedihan sekaligus kegembiraan yang kini menjelma dalam bentuk pengalaman. Kita doakan ia baik-baik saja disana. Segala jerih payah, usaha, kerja keras, kegagalan, kehancuran, serta kebrengsekan akan kita kenang selama 12 bulan mendatang.
Sekarang, kita akan menyambut lagi tantang terberat dari sebuah pencapaian. Jangan pernah lelah untuk terus berjuang bersamaku. Sebab kamu, dua puluh empat, mau tak mau akan menemui lagi rintangan yang mungkin akan menyurutkan nyalimu. Berjanjilah, kamu tetap disini, menemani hingga 12 bulan ke depan. Jika kau merasa harus menyerah, bilang padaku. Aku akan mencambukmu!
Dua puluh empat, sebenarnya aku benar-benar sulit untuk menerimamu disini, ditubuhku. Entah kenapa ketika tiba tepat jam 00.00 kau datang, perasaanku di penuhi rasa aneh yang pada akhirnya mendorong air mataku untuk jatuh perlahan. Aku masih belum bisa menerima kedatanganmu. Kau curang! Aku belum siap! Ada begitu banyak pencapaian yang harus kucapai saat kau datang! Kau mengacaukan rencanaku!
Dua puluh empat, ah! Banyak yang ingin aku sampaikan padamu. Tapi ketika aku mau mulai bicara, kau selalu datang membayangiku, kau seperti mengejek. Meski begitu, ketahuilah, aku akan mencintaimmu penuh, seluruh, sampai nanti kau juga akan bernasib sama dengan dua puluh tiga. Ya, sementara aku, akan memulai lagi dengan si dua puluh lima, yang tentu saja melalui tahap awal perkenalan yang membosankan.
Begini saja dua puluh empat, melihat si dua puluh tiga berlalu tanpa membuahkan apa-apa, bagaimana jika aku menjanjikan beberapa hal padamu? Sebut saja ini perjanjian kecil, antara aku, kamu dan Tuhan saja yang tahu? Hal ini untuk meyakinkanmu agar kamu terus setia padaku. Jika kamu setuju, kedipkan matamu melalui mataku. Oh baiklah.
- Aku akan membuatmu yakin bahwa kau bisa pergi dengan mendapatkan apa yang kau ingin. Jika itu tidak terjadi, kau bisa menusukku dengan apapun yang kau suka.
- Aku akan ada disebelahmu ketika kau terbelit berbagai macam masalah. Jika aku meninggalkanmu dalam keadaan yang buruk, kau bisa memotong tanganku dengan apa pun yang kau suka.
- Aku akan mencoba memberimu solusi ketika kamu tidak bisa lagi berfikir. Jika aku kabur, kau bisa memotong lidahku dengan apa pun yang kau suka.
- Dan terakhir, aku akan bersedia melayanimu sampai aku cukup yakin kau telah puas dengan jasaku. Jika aku tidak memuaskanmu, butakan mataku!
Deal? Kedipkan matamu melalui mataku jika kamu setuju. Oh baiklah.
Dua puluh empat, sekali lagi selamat datang di tubuhku. Salamat menikmati setiap inci bagian dari tubuhku. Selamat bersenang-senang dengan pikiranku. Selamat menjalani hidupmu yang singkat. Aku mencintaimu, penuh, seluruh. Dengan segala kasih, aku benar-benar beruntung kamu sudah memilihku untuk bertumbuh kembang. Sekali lagi, aku mencintaimu.
Selamat datang, dua puluh empat. Semoga kamu betah disini, di tubuhku.
Jogja, 24 Juni 2014.
Selamat Datang Dua Puluh Empat
PersyaratanLomba:
1. Peserta adalah pelajar SMA/sederajat serta mahasiswa aktif perguruan tinggi di wilayah Jawa Tengah dan DIY (dibuktikan dengan menyertakan scan atau foto KTM/kartu pelajar)
2. Karya, formulir pendaftaran & scan atau foto KTM/kartu pelajar dikirim dalam bentuk soft copy ke alamat email rycapparel@gmail.com dalam bentuk attachment/lampiran, bukan di body email.
Format Penulisan:
Naskah cerpen maksimal 8 halaman, diketik dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD, Font Times New Roman ukuran 12, kertas ukuran A4, margin kertas default, line spacing 1,5
Peraturan Lomba:
1. Tema cerpen sesuai dengan tema Tidar Fiction Festival 2014 yaitu “Mengejar Angin”
2. Isi dan makna cerita tidak tidak mengandung SARA
3. File naskah disimpan dalam format .doc atau .docx dan diberi judul dengan format kategori_nama penulis_judul cerpen, contoh: mahasiswa_kury yusuf_hidrogen.docx
4. Peserta hanya diperkenankan mengirim satu cerpen terbaiknya
5. Naskah harus asli, bukan saduran atau terjemahan dan belum pernah/tidak sedang diikutkan dalam lomba penulisan lainnya serta belum pernah dipublikasikan di media apapun
6. Karya yang sudah masuk menjadi milik panitia
7. Keputusan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat
Deadline dan Pengumuman:
1. Pengiriman naskah paling lambat tanggal 17 April 2014, pukul 23.59
2. Penjurian dan penilaian hasil karya dimulai pada tanggal 18-22 April 2014
3. Pengumuman 20 besar masing-masing kategori pada tanggal 23 April 2014
4. 20 besar masing-masing kategori wajib mengikuti sesi klinik editing pada tanggal 26 April 2014
5. 20 besar masing-masing kategori akan diseleksi kembali menjadi 10 terbaik yang akan dibukukan. Pengumuman 20 naskah yang akan dibukukan pada tanggal 29 April 2014
6. Pengumuman pemenang akan dilangsungkan dalam The Masterpieces of TiFFest 2014 yang
berisi launching antologi cerita hasil kompetisi sekaligus penganugerahan pemenang pada tanggal 11 Mei 2014
Nominasi dan penghargaan:
1. The Masterpiece of TiFFest 2014 (kategori mahasiswa)
Dana apresiasi + piala + sertifikat + buku terbit + bingkisan eksklusif
2. The Masterpiece of TiFFest 2014 (kategori pelajar)
Dana apresiasi + piala + sertifikat + buku terbit + bingkisan eksklusif
3. Story of The Year on TiFFest 2014 (juara favorit)
Dana apresiasi + piala + sertifikat + buku terbit + bingkisan eksklusif
4. 20 naskah terbaik akan dibukukan dalam Antologi The Masterpieces of TiFFest 2014:
“Mengejar Angin”
Info:
085799685827 (kury)
kuryyusuf@yahoo.com
www.facebook.com/groups/tiffest
Sekretariat:
Bengkel Seni Universitas Tidar Magelang
Jalan Kapten S. Parman No. 39
Kota Magelang
56116
Formulir Peserta
TIDAR FICTION FESTIVAL 2014
Kategori :
Judul naskah :
Nama lengkap :
Nama pena :
Jenis kelamin :
Alamat :
Perguruan :
Nomor telepon :
Email :
Facebook :
Twitter :
Keyword naskah :
Tentang Anda : (ceritakan diri Anda dalam 5-7 kalimat yang
menurut Anda penting diketahui orang lain)
Tidar Fiction Festival 2014
Langganan:
Komentar
(
Atom
)


